XtGem Forum catalog

Proses kreatif

(Einstein jenius yang mengakui kekuatan intuisi)

Sejak beberapa dekade terakhir ini, para ahli ilmu pengetahuan terus berdebat.
menyangkut bagaimana terjadinya proses kreatif yang memunculkan penemuan besar.
Ada dua kubu yang masing-masing mempertahankan argumentasinya. Kubu pertama
menyebutkan, kreatifitas muncul secara tiba-tiba dan intutitif. Sementara kubu
kedua mengatakan, kreatifitas adalah proses belajar yang panjang dan teratur.

Mana yang benar diantara kedua pendapat itu, hingga kini belum dapat ditentukan
secara mutlak. Banyak penemuan baru menunjukkan pola, seolah-olah gagasannya
datang begitu saja dari langit. Akan tetapi, banyak penerima hadiah Nobel
melakukan penelitian sistematis selama beberapa dasawarsa, sehingga menemukan
sesuatu yang baru.

Kubu yang menyebutkan bahwa kreatifitas, gagasan atau penemuan cemerlang
merupakan sesuatu yang muncul tiba-tiba, dipelopori oleh profesor Dean Keith
Simonton, peneliti kreatifitas dari Universitas California di Davis AS.
Sementara kubu yang mengatakan, kreatifitas adalah proses belajar yang panjang
dan teratur, dipelopori oleh Prof. Gerd Graßhoff dari Universitas Bern di
Swiss. Namun harus tetap ditegaskan bahwa, proses yang memikirkan sesuatu
secara terstruktur dan logis, memang merupakan kegiatan sehari-hari para
ilmuwan.

Demikian juga untuk memecahkan soal-soal rumit, baik itu di bidang ilmu alam
atau ilmu terapan, diperlukan otak dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
Simonton juga mengakuinya, untuk dapat mengerti ilmu fisika, kimia atau biologi
tingkat tinggi, diperlukan orang-orang dengan tingkat kecerdasan atau IQ
rata-rata 130. Akan tetapi, seringkali pikiran logik dan terstruktur tiba-tiba
macet ketika menghadapai persoalan yang amat pelik. Pada satu titik tertentu,
tingkat kecerdasan seseorang tidak lagi menolong.

Gagasan tiba-tiba

Tetapi intuisi atau kreatifitas yang ibaratnya muncul secara tiba-tiba dari
langit, mendorong munculnya penemuan-penemuan baru. Jenius sekelas Albert
Einstein atau pakar matematika Henri Poincare juga mengakui kekuatan intuisi
ini. Namun juga dipertanyakan, jika otak tidak memiliki kecerdasan tinggi dan
terlatih, bagaimana intuisi untuk sebuah inovasi baru dapat muncul?

Fenomena itulah yang sekarang terus diteliti. Gagasan Simonton kelihatannya
memang seperti omong kosong. Bagaimana mungkin, jenius-jenius sekelas Einstein,
Poincare, Mendelejev atau Martin hanya bertumpu dari kebetulan yang datang dari
langit. Tetapi pengakuan para jenius tsb, bahwa mereka seolah-olah mendapatkan
gagasan dari langit, bukanlah omong kosong. Terbukti banyak problem yang
berpuluh tahun tidak terpecahkan, tiba-tiba dapat ditemukan jawabannya oleh
seorang ahli ilmu pengetahuan.

Pakar matematika dari Perancis, Henri Poincare misalnya, mengakui suatu saat
merasa pikirannya buntu, karena tidak mampu menyelesaikan sebuah persamaan.
Karena merasa kesal, ia kemudian berlibur beberapa hari ke pantai, untuk
melihat pemandangan lain. Ketika sedang berjalan-jalan di pantai, tiba-tiba
dalam kepalanya muncul jawaban dari masalahnya, secara paralel dalam geometri
non-Euclid. Atau ahli kimia Rusia terkemuka, Dimitri Mendelejev yang frustrasi
karena tidak berhasil memecahkan masalah susunan elemen kimia. Karena lelah, ia
tertidur dan bermimpi menemukan pemecahan masalah. Tahun 1869 Mendelejev
kemudian memperkenalkan sistem periodik unsur kimia yang dilihatnya dalam
mimpi. Sistem periodik unsur kimia tersebut berlaku hingga kini.

Proses berpikir sistematis

Tetapi Graßhoff tentu saja membantah berbagai bukti tsb. Ia bersikeras, dengan
melakukan proses penelitian terus menerus secara sistematis, seharusnya para
jenius juga dapat terus menemukan inovasi baru. Sebagai contohnya, ia
mengembangkan model program komputer untuk meniru penemuan pemenang Nobel
kedokteran, Hans Adolf Krebs mengenai pembentukan urea dalam tubuh. Akan
tetapi, kelemahan teori ini adalah, komputernya tetap harus direkayasa. Jadi
tidak ada keteratutan sistematis, yang membuat komputer mengembangkan sendiri
penemuan tsb.

Pendukung Simonton mempertanyakan, jika penemuan baru dapat dibuat dengan cara
atau model yang dikembangkan Graßhoff, kenapa tidak terdapat penemuan baru yang
ditemukan serentak oleh puluhan atau ratusan jenius. Memang ada yang mendapat
gagasan hampir bersamaan. Misalnya Newton dan Leibniz yang secara terpisah,
hampir bersamaan menemukan perhitungan differensial. Demikian juga Darwin dan
Wallace yang hampir bersamaan menemukan teori seleksi alamiah, tetapi dua
contoh kasus itu bisa disebuat sebagai anomali dan bukan merupakan hal yang
baku.

Dalam kenyataannya suatu penemuan baru dalam tema yang mirip, rata-rata muncul
10 tahun sekali. Secara statistik semakin dikukuhkan pola, bahwa proses kreatif
atau penemuan baru, selalu datang tiba-tiba bagai kilatan petir dari langit.
Bahkan seringkali harus ditunggu beberapa dasawarsa, hingga sebuah terobosan
penemuan baru muncul tiba-tiba. Contohnya saja penemuan pakar Biokimia Archer
Martin, chromatography menggunakan filter kertas yang dianugerahi hadiah Nobel
kimia tahun 1952. Martin mengatakan, sebetulnya prosedur itu bisa ditemukan
seratus tahun sebelumnya jika saja para jenius menemukan jalannya.

Sifat unggulan

Sesungguhnya menemukan jalan, itulah bagian yang tersulit, sehingga ilham dari
langit, seolah-olah tetap menjadi kunci dari kreatifitas dan penemuan baru.
Namun kendalanya tidak semua orang mendapat berkah, menjadi penemu besar yang
dicatat sejarah. Selalu terdapat kaitan antara kecerdasan, penelitian terus
menerus secara sistematis, tantangan keilmuan yang terus menerus serta
kecakapan orang itu sendiri untuk memecahkan berbagai masalah. Hanya saja
terdapat semacam kaidah untuk dapat menjadi penemu besar dan kreatif, para
jenius, terlepas dari sikap atau cara hidupnya, biasanya memiliki lima sifat
unggulan untuk dapat meraih kategori penemu besar atau pemenang hadiah Nobel.

Masing-masing keterbukaan untuk mendapat pengalaman baru, memiliki wawasan
ekstra, memiliki stabilitas emosi, pakar dalam bidangnya dan tahan uji.
Penelitian selama ini menunjukkan, di dalam kepala orang-orang yang kreatif,
ide berkeliaran lebih bebas ketimbang di kepala orang kebanyakan. Poincare
menggambarkannya seperti gelembung gas yang berterbangan kesana kemari,
kadang-kadang juga bertabrakan. Pikiran orang-orang kreatif juga lebih bebas
hambatan dan lebih chaos, karena teru-menerus berpikir sistematis. Sekali lagi,
semua itu tidak bisa jadi penemuan besar, tanpa ilham yang seolah datang dari
langit. Sebab, jika chaos dan keliaran gagasan dalam otak tidak dibarengi
kecerdasan, orang tersebut bukan termasuk jenius tapi sakit jiwa Skizoprenia.
Kebodohan manusia memang tidak terbatas, seperti kata Einstein